Total Tayangan Halaman

9 Maret 2016

Nursing While Pregnant

Bagi ibu-ibu yang bingung saat ingin sekali bisa memberikan ASI ke buah hati sampai usia 2 tahun tiba-tiba dianugerahi buah hati (lagi). Mungkin pengalaman saya bisa memberikan inspirasi atau paling tidak mengurangi kebingungannya, hehe..

Yup, saat keinginan saya begitu kuat untuk bisa memberikan ASI eksklusif pada anak kedua dan menyusui tanpa sufor sampai usia 2 tahun (karena anak pertama gagal disebabkan belum berilmu saat itu), tiba-tiba saya mendapatkan anugrah buah hati yang ketiga tanpa direncanakan.

Terus terang saat itu memang belum KB, karena pengalaman pada anak pertama yang mulai program KB pada saat 1 tahun setelah melahirkan yang tidak masalah alias aman-aman saja. Sehingga pada anak kedua ingin mencoba hal yang sama, hehe...

Namun rupanya Allah percaya kepada kami dengan menitipkan buah hati satu lagi tepat pada usia si kakak yang ke 6 bulan, disaat saya ingin sekali memberikan ASI full ke anak kedua.

ASI eksklusif alhamdulillah lancar, karena produksi ASI saat itu lumayan melimpah, stock banyak bahkan punya anak susuan.

Menginjak usia ke 7 si kakak tiba-tiba saat itu merasa produksi ASI semakin hari semakin berkurang, sempat berpikir apakah karena saat itu pekerjaan lagi banyak sehingga tanpa sadar saya stress dan menghambat produksi ASI.

Seperti biasa saat-saat awal hamil yang tanpa gejala, waktu itu sengaja membeli tes kehamilan karena setelah mencoba relax atau menjauhkan diri dari yang namanya stress tetapi produksi ASI tak kunjung bertambah. Justru setiap hari produksi semakin menurun. Sehingga sayapun curiga kalau saya hamil.

Pagi-pagi sebelum sholat subuh, dicobalah tes kehamilan yang kemarin dibeli dan....hasilnya positif.

"Haaa........"
Suamiku hanya bisa mlongo, "koq bisa???"

Haduuuh pertanyaan macam apa itu, ya bisalah. Di dunia ini mana ada yang nggak mungkin

Ya sudahlah, meskipun kaget dan sedih karena semangat ngASInya waktu itu cukup tinggi, namun tetap saja saya tidak bisa melawan hukum alam. Bahwa hormon kehamilan bertolak belakang dengan hormon laktasi. Semakin hari produksi ASI semakin menurun, namun karena kasihan dengan si kakak yang blum genap setahun tetap saja saya susuin saat saya di rumah.

Namun perlu diingat bagi para ibu-ibu yang mengalami nursing while pregnant, untuk konsultasi ke dokter kandungan. Selama tidak ada masalah dengan kehamilan, seperti tidak ada kontraksi dll, menyusui saat kehamilan masih bisa dilakukan.

Sebenernya kalau produksi ASI saat hamil tidak akan mencukupi kebutuhan si kakak, namun tujuan saya untuk tetap menyusui adalah ketika adiknya lahir si kakak masih tetap mau menyusu.

Untuk memenuhi kebutuhan susu selama produksi ASI menurun saya menggantinya dengan jus buah, yogurt dan makanan-makanan sumber kalsium. Alhamdulillah dengan MPASI rumah dan dengan asupan sumber makanan tinggi kalsium serta memperhatikan grafik pertumbuhan yang normal, si kakak tidak perlu ditambah dengan susu formula.

Saat itupun tiba adiknya lahir dan kakaknya masih mau menyusu, sehingga status saya pun berubah dari nursing while pregnant menjadi tandem nursing.

Masa-masa yang bahagia dan akan menjadi kenangan yang indah bagi kami, karena tidak semua ibu mempunyai dua kesempatan yang Allah berikan kepada saya.

Selalu bersyukur dengan apa yang diberikan Allah saat ini, karena semua mengandung hikmah dan pelajaran.

Tangan Tuhan Telah Bekerja (selesai)

Kegalauan selalu mewarnai hari-hariku karena belum ada keputusan yang kuambil, sholat istikharahpun tidak menguatkan keputusanku untuk segera mutasi. hingga tiba-tiba siang itu saat aku dikantor, suara hpku berdering. diseberangsana suara sepupuku yang nampak panik mengabarkan kalau Bapak pingsan. meledaklah tangisku saat itu, karena selama ini Bapak tidak pernah sakit, Bapak selalu rajin berolahraga dan menjaga makan.

ditemani temanku satu ruangan aku langsung ke rumah sakit, beliau di UGD dengan mulut penuh dengan darah. Kata dokter Bapak stroke, pembuluh darah pecah sehingga mengeluarkan banyak darah. sehari di rawat di ICU yang maha Kuasa memanggil Bapak tepat setahun setelah meninggalnya Ibu.

Tidak ada cobaan yang lebih berat rasanya dibandingkan waktu itu dalam waktu satu tahun aku kehilangan orangtua yang sangat baik terhadap anak-anaknya, orangtua yang sangat sabar, halus tutur katanya. Dan yang paling membuatku sedih selain belum bisa membuat mereka bahagia adalah banyak ilmu dari mereka yang belum bisa aku aplikasikan. Aku masih membutuhkan bimbingan mereka.

Takdir berkata lain, aku yang biasa manja, sedikit-sedikit minta tolong orangtua harus memulai babak baru. Tidak lama sejak bapak meninggal surat mutasiku di setujui dan aku pindah ke Surabaya. Iya, aku ditempatkan di Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur.

menjalani hidup baru di Surabaya bersama suami setelah 4 tahun LDR serasa pengantin baru, banyak yang perlu diadaptasikan.  Ternyata suami kurang setuju kalau aku bekerja di Dinas Kesehatan Provinsi karena sering ada kegiatan dinas ke luar kota.

Suatu hari ada pendaftaran beasiswa S2 dari  Kemenkes yang dikoordinir oleh Kantor masing-masing, dan aku baru tahu dihari terakhir pendaftaran. Untung semua berkas ada copyannya di kantor, sehingga hari itu aku bisa memasukkan mendaftar. Itupun diomelin petugas pendaftarannya karena berkas sudah mau dikirim dan surat pengantarnya sudah ditandatangani Kepala Dinas.

"Kemana aja mbak koq baru masukin berkasnya?" surat pengatarnya sudah jadi, nanti mau tak kirim lewat pos kata petugas
"Hehe iya Bu, maaf baru tahu tadi pagi soalnya, kalau sudah nggak bisa nggak papa Bu, mungkin next time bisa ikut lagi. "jawabku saat itu

Pasrah saja lah, karena memang belum ada keinginan mau melanjutkan S2, karena kondisi lagi hamil trimester terakhir anak ketiga, dipikir-pikir bakal rempong nanti kalau sekolah.

Namun hati kecil, jika rejeki tak akan kemana karena kesempatan tidak datang dua kali. Tiba-tiba ingat dulu obrolan bersama Bapak. Saat Bapak menawarkan ke aku untuk melanjutkan S2 sesaat setelah wisuda S1. Saat itu tiba-tiba aja jawab "Nggak Pak, nanti saja, Saya maunya S2 beasiswa aja". Karena saat itu memang nggak tega jika harus ngrepotin Bapak lagi untuk membiayai sekolah.

Sebulan kemudian pengumuman seleksi administrasi dan namaku muncul disana. Alhamdulillah, rupanya petugasnya baik hati untuk memasukkan berkasku. Hihihi

Selama kuliah S2, hampir semua teman satu jurusan saat itu adalah para dosen. Mendengarkan cerita-cerita mereka membuat aku punya cita-cita baru. Iya, aku ingin menjadi dosen setelah lulus S2 nanti.

Saat ngobrol-ngobrol dengan suami, dia menyetujui rencanaku dan mendukung penuh. Dan selama kuliah yang sangat hectic ditambah punya baby yang baru lahir, dia sangat membantu sekali. Beda dengan saat-saat aku kerja. Hehehe...

Apa yang aku butuhkan selama kuliah, dia selalu memenuhi kebutuhanku tersebut. contohnya nih ya..."Pa, aku butuh printer nih...biar nggak tiap hari ke rental buat ngeprint tugas-tugas". Dan Dia pun nggak menjawab kata-kataku,tapi tiba-tiba criiing, pulang kantor dia sudah membawa printer yang kubutuhkan. Dan kejadian-kejadian ini selalu berulang, kalau aku butuh apa...tiba-tiaba criiing sorenya ada, hehehe kayak sulap.

Selepas kuliah S2, rencana untuk beralih profesi menjadi dosen pun segera ingin kurealisasikan dengan mengajukan mutasi ke sebuah instansi pendidikan. meskipun prosesnya penuh drama, alhamdulillah sekarang aku sudah menjalani profesi tersebut.

Terkadang, kita tidak tahu akan menjadi apa dan seperti apa, tugas kita adalah berusaha menjalani dengan sebaik-baiknya dan penuh ikhlas dengan segala ketentuan-Nya.

Selesai.
 



Tangan Tuhan Telah Bekerja (Part 3)

Setelah hari pernikahanku, seminggu kemudian semua aktifitas berjalan seperti semula. Dia harus kembali ke Surabaya untuk melanjutkan usahanya baru dirintis, sedangkan aku masih tinggal di Kudus sebagai CPNS. Rasanya berat menjalani LDR, karena pada dasarnya aku blum ikhlas untuk jauhan ma suami. mau resign tapi orang tua tidak mendukung.
"Sabar nduk nanti klo sudah PNS kan sudah boleh ngurus mutasi" Begitu kata Bapak, menguatkan aku untuk bersabar menjalani hidup LDR dengan suami.

Saat itu aku masih CPNS dan butuh waktu 2 tahun untuk diangkat jadi PNS. Setelah satu tahun pernikahan, lahirlah anak kami yang pertama. tidak sanggup rasanya mengingat masa-masa sulit itu. Suami yang sering senewen karena tidak bisa berkumpul keluarga setiap saat, bahkan saat dia pulang anaknya takut sama papanya sendiri dan banyak hal yang mewarnai di awal-awal pernikahan kami.

Menurut agama yang kuanut, istri harus mengikuti suami, saya paham sekali dengan konsep tersebut tetapi untuk saat itu sulit rasanya membuat keputusan. tepat setelah saya melahirkan ibu didiagnosa kanker, tidak mungkin aku meninggalkan Ibu saat sakit, karena hanya ada Bapak di rumah, adek kuliah di luar kota sedangkan kakak hidup dengan keluarganya di luar kota.

Selama kami menjalani LDR banyak sekali kesalah pahaman karena masalah komunikasi, waktu itu blum ada internet, telpon juga masih mahal. jadi tidak memungkinkan untuk berkomunikasi dengan suami setiap saat.

Setahun sejak didiagnosa kanker nasofaring, ibu dipanggil yang Maha Kuasa. kami sudah berusaha yang terbaik dalam ikhtiar demi kesembuhan ibu, dari kemoterapi, radiasi, operasi semua sudah dijalani.

semakin berat rasanya meninggalkan Bapak sendiri di rumah karena tidak ada lagi yang menemani, sedangkan suami sudah mulai sibuk dengan bisnisnya sehingga kesempatan untuk pulang sudah mulai jarang. Tahun-tahun berat mulai kami jalani, jangan ditanya lagi berapa kali kami berselisih paham. rasa kangen yang terlalu lama menjadi sebel satu sama lain ketika saatnya bertemu.

Namun, mau tidak mau aku harus mulai mengurus surat mutasi karena suami sudah mulai mendesak agar segera pindah, tapi Bapak bagaimana???
sungguh aku tidak bisa mengambil keputusan, aku tidak tega meninggalkan Bapak sendiri, tapi aku juga tahu tugasku sebagai istri. hanya doa yang bisa kupanjatkan selama ini, berilah jalan yang terbaik.

(to be contiued)





7 Maret 2016

Hutang Satu Bayar Dua

Bismillah

Setiap pelipatgandaan pada saat pembayaran, biasanya diartikan suatu bentuk transaksi riba. Namun judul tulisan ini tidak ada sangkut pautnya dengan riba, tidak ada hubungan sodara ataupun hubungan pernikahan. (Apaan coba) :)
Kali ini saya tidak akan membahas tentang riba. Karena ilmu saya tentang hal tersebut masih cetek dan saya juga merasa belum bisa bersih dari riba (masih ada cicilan KPR, hik...semoga cepat lunas)

Hutang satu bayar dua kali ini berhubungan dengan tulisan. Yup, saya mempunyai hutang satu tulisan di #ODOP pada hari kelima yang seharusnya sudah di postkan pada hari jumat kemarin. Hari ini saya harus membayar dua, satu untuk bayar hutang dan satu lagi setoran tulisa hari ini.

Kemarin ada dua hari libur, kenapa tidak dimanfaatkan???

seperti biasa, jadwal saya sebagai emak-emak rempong padat merayap sodara-sodara persis seperti macetnya jalanan di Jakarta.
Sehingga kesempatan untuk membayar hutang baru bisa saat ini.

Sekarangpun sebenernya dalam rangka dikejar deadline, ada satu materi mengajar untuk besok dan 2 soal UTS yang besok harus diserahkan.

Nahkan....kali ini saya benar-benar dikejar deadline, parahnya kali ini kondisi fisik lagi drop #curhat

Seperti biasa, saya yakin ada kekuatan super yang akan membantuku menyelesaikan tugas-tugas yang dikejar deadline termasuk 2 tulisan untuk #ODOP


Semangat Kakak...eh Emak !!!!
Mencoba menyemangati diri sendiri untuk tidak ketinggalan tugas-tugas dikelas ODOP






3 Maret 2016

KESEMPATAN BERGABUNG DENGAN #ODOP



Pertama kali tahu tentang ODOP dari postingan teman di wall Facebook miliknya. Saat itu  rasanya seneng sekali, dalam hati berkata mungkin ini jawaban Allah (ceilah bahasanya). Gimana tidak seneng, keinginan menjadi penulis adalah keinginan lama yang sudah hampir terkubur oleh keinginan-keinginan yang lain. Terkubur oleh kegiatan-kegiatan sehari hari yang tidak pernah ada habisnya.

Iya, aku ingin jadi penulis. Aku ingin bisa mencoba menularkan segala ilmu yang aku punya lewat tulisan. Meskipun ilmunya juga nggak banyak-banyak amat hehehe….Sudah menjadi sunatullah, bahwa  semakin kita banyak memberi, maka Allah akan memberi kita yang lebih banyak lagi. Aku rasa ini tidak melulu soal uang/materi, ilmu pun juga seperti itu.

Dengan ragu-ragu aku akhirnya mendaftar lewat WA ke Bunda Maya. Deg-degan rasanya pada saat pertama kali mendaftar, takut tidak bisa melakukan tugas sesuai dengan namanya #OneDayOnePost.

Seperti biasanya, kalau aku akan mempunya kegiatan baru hal yang pertama kali kulakukan adalah mengiformasikan hal tersebut ke suami. Kebetulan suami lagi di luar kota, lagi ada project di sana. Kuceritakanlan semua tentang ODOP melalui WA. Karena sertiap kali telpon atau skype pasti kalah dengan anak-anak.

“iya silahkan mi..”
“Tapi jangan semangat diawal-awal saja lho yaa…” katanya.
Hehe, dalam hatiku berkata  He knows me so well….

Itulah aku, semangatnya panas-panas tahi ayam. Pasti akan kelihatan excited di awal-awal. Habis itu mlempem dan akan banyak alasan pembenaran.

Tapi kali ini, mencoba sekuat tenaga untuk menjadikan menulis sebagai kebiasaan. Klo menurut teori  kebanyakan untuk menjadikan perilaku baru menjadi kebiasaan memerlukan latihan atau pembiasaan selama minimal 3 bulan (100 hari).  Nah namun sekarang ini banyak sekali penelitian tentang konsep perubahan perilaku dalam jangka waktu yang sesingkat-singkatnya. Kemarin nemu video presentasi penelitian tentang perubahan perilaku dalam waktu 21 hari.

Nah, sekarang mencoba menerapkan konsep perubahan perilaku ke diri sendiri dalam waktu sesingkat-singkatnya atau paling tidak minimal 21 hari deh. Hehe semoga berhasil.
Sebelum hari H, mencoba menyiapkan segala macam peralatan perang untuk mengikuti #ODOP ini. Koq segitunya sih?

Iya, karena banyak sekali keinginan dikepala pada saat ini, lagi pengen ngelakuin ini, itu dan banyaaak. Hehe

Supaya bisa kepegang semua makanya strategi itu penting. Bayangkan ya, pagi-pagi aktivitas sebagai emak-emak rempong adalah mempersiapkan bekal anak, menyiapkan mereka untuk sekolah. klo yang besar sudah lumayan mandiri. Nah krucil dua ini nih yang perlu banyak strategi untuk membangunkan, kemudian gimana mereka mau sarapan. Blum lagi klo lagi mokong. Huff, akan mengurasi tenaga dan emosi pastinya

Sebelum hari H sudah mulai bikin schedule menulis, kayaknya waktu yang tepat adalah sepertiga malam terakhir. Tepat sebelum subuh dan sesudah sholat tahajud. Klo kemarin-kemarin sholat tahajud mendekati subuh sekarang berarti harus atur jadwal minimal satu jam sebelum subuh sudah harus bangun. Hmm…PR nih J

Untungnya ada kesempatan seminggu untuk pemanasan, mulai bikin blog dan mencoba bikin tulisan. hehe asli bingung saya kalau berhubungan blog, level gaptek saya mungkin sudah tingkat tinggi.. Pernah bikin blog, habis itu nggak tahu gimana cara masuknya….hihihi, aneh kan.  Untungnya di group #ODOP ini banyak temannya, yang masih blum ngerti dengan dunia blog. Jadi nggak usah nanya, sudah ada yang menanyakan…hehehe

Satu, dua hari masih bisa nulis di sepertiga malam terakhir. Tapi sejak hari ke 3 tenyata ada deadline yang harus diselesaikan. Waduhh…gak kepegang deh blognya, untung siangnya ada kesempatan di kantor. Nah kejadian nulis blog diluar schedule kayaknya juga bakal terulang pada hari ke 4 dan ke 5. Ada acara masak-masak untuk syukuran anak mbarep. Jadi waktu sepertiga malam terakhirnya dimanfaatkan untuk membuat kue.

Sekarang hari ke 4, seharian setelah ngajar,  keliling Surabaya untuk membeli bahan-bahan untuk bikin kue besok pagi. Nyaris nggak ada kesempatan buat nulis. Tapi sebelum mata ini terlelap, kusempatkan untuk mengisi blog ini.

Meskipun mungkin bahasanya ajaib, karena mata sudah ngantuk dan lelah. Tetep semangat supaya nggak punya hutang menulis dihari berikutnya.

Karena hidup paling nyaman adalah, hidup tanpa hutang…
Semoga habis ini, kembali ke schedule awal, menulis di sepertiga malam terakhir.

Semangat….

2 Maret 2016

MANGGA UNTUK MENGURANGI RASA MUAL PADA IBU HAMIL YANG HIPEREMESIS



Kehamilan adalah moment yang dinanti-nanti  oleh seorang wanita yang sudah menikah. Namun seringkali calon ibu tidak menyadari kapan dia mulai hamil. Tiba-tiba dia merasakan  perubahan pada tubuhnya, seperti mual dan muntah, badan menjadi lemah dan mengantuk sepanjang hari.  Mual muntah saat hamil dikenal dengan istilah “morning sicknes” biasanya terjadi pada pagi hari. Berdasarkan  penelitian, sekitar 80% ibu hamil mengalami hal ini, mulai dari derajat yang ringan sampai dengan derajat berat. Disebut derajat berat jika ibu hamil mengalami mual muntah yang berlebihan. Kondisi  ini sering disebut sebagai hiperemesis gravidarum. Pada penderita hiperemesis, mual muntah bisa terus berlangsung lebih dari 14 minggu atau bahkan hingga bayi lahir.

Ibu hamil yang mengalami hiperemesis harus memperhatikan asupan makanan, seringkali ibu dengan hiperemesis malas makan karena takut setiap kali makan akan menimbulkan rasa mual. Padahal perlu diketahui bahwa kebutuhan energi pada ibu hamil terjadi peningkatan, jika dibandingkan kebutuhan sebelum hamil. Peningkatan kebutuhannya sekitar 300-500 kkal. Untuk mencegah mual pada ibu hamil yang hiperemesis, disarankan untuk makan dalam porsi yang kecil dan sering. Sehingga diharapkan kebutuhan energinya tetap terpenuhi.
                                    
Ada beberapa bahan makanan yang bisa mencegah mual pada ibu hamil yang hiperemsis yaitu buah-buahan tinggi vitamin C, selain makanan sumber karbohidrat, kacang-kacangan dan jahe.  Mangga merupakan salah satu buah yang mengandung vitamin C  yang cukup tinggi, yaitu sekitar 60 mg per 100 gramnya. Vitamin C yang ada di dalam buah mangga bermanfaat untuk menetralisir rasa mual. Namun perlu diingat sebaiknya pilih buah mangga yang tidak terlalu asam ataupun terlalu matang.

Selain itu buah mangga juga  dapat membantu melancarkan sistem pencernaan melalui kandungan seratnya yang tinggi. Buah mangga juga memiliki kandungan potassium dan kalium yang dapat menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh. Vitamin C yang terdapat dalam mangga selain menetralisir rasa mual juga sebagai antioksidan yang dapat melindungi ibu dari bahaya radikal bebas yang bisa menyebabkan kanker. Manfaat mangga untuk ibu hamil juga dapat meningkatkan stamina dan energy untuk tetap beraktivitas melalui sukrosa dan karbohidrat yang ada di dalamnya.

Makanan pencegah mual pada ibu hamil
Makanan pemicu mual pada ibu hamil
- Makanan sumber vitamin C. makanan sumber vitamin C seperti  jeruk, mangga, apel, lemon, leci, semangka, jambu air, pir dapat menetralisir rasa mual pada ibu hamil.
Jahe. Mengandung minyak atsiri yang bermanfaat untuk mengatasi rasa mual. Aroma jahe bisa membuat tubuh dan pikiran rileks
- Makanan sumber kabohidrat. Sediakan  Roti, biscuit, crakers di sebelah tempat tidur.  Dapat dikonsumsi  sesaat setelah bangun tidur sebelum beranjak  dari tempat tidur. Hal ini dapat mencegah mual  pada ibu hamil
-    Kacang-kacangan. Almond dan kacang tanah merupakan kacang-kacangan sumber protein. Makanan sumber protein bisa mencegah mual pada ibu hamil dan juga kandungan protein bagus untuk pertumbuhan janin
-          Makanan lemak tinggi.  kandungan lemak jahatnya bisa menimbulkan rasa mual pada ibu hamil
-  Makanan berminyak. Makanan seperti gorengan dengan kandungan minyak tinggi akan meninggalkan sisa minyak di lidah dan usus. Minyak tidak dapat diuraikan oleh usus, hal ini mengakibatkan rasa mual.
-  Makanan pedas.  Bisa memicu meningkatkan kadar asam lambung yang bisa menyebabkan mual pada ibu hamil.
-        Makanan  yang menimbulkan gas. Durian, nangka,kol,sawi hijau dan makanan hasil fermentasi seperti tape merupakan makanan yang menimbulkan gas. Makanan yang bergas membuat perut kembung dan penuh, serta menyebabkan mual.

Berikut contoh resep kudapan modifikasi untuk ibu hamil dengan hyperemesis, diantaranya pie mangga  dan pancake mangga.

  
 1. PIE MANGGA

Bahan Kulit :
200 gram mentega
1 butir telur
300 gr tepung terigu
2 sdm maizena
3 sdm gula halus
2 sdm susu bubuk
½ sdt garam

Bahan isi :
1 buah mangga masak ukuran besar potong kotak-kotak
1 sdm maizena
2 sdm gula pasir
Air secukupnya untuk mengentalkan
Cara membuat :
1.       Kulit : aduk telur, mentega, gula halus dengan sendok kayu atau spatula tambahkan terigu, maizena, susu bubuk yang sudah diayak. Tambahkan garam aduk rata dengan tangan lalu simpan di chiller (suhu dingin) 30 menit
2.       Isi : siapkan wajan, masukkan mangga, gula beri air hingga gula larut lalu masukkan maizena yang diaduk dengan air sedikit. Masak hingga asal mengental lalu dinginkan
3.       Siapkan cetakan pie bongkar pasang bentuk kulit pie lalu tusuk-tusuk dengan garpu dan masukkan isi beri tutup lalu panggang hingga kuning kecoklatan.

Nilai Gizi per Porsi
Energi                   : 277,55 kkal
Protein                  : 3.82 g
Karbohidrat          : 33.53 g
Lemak                  : 14.66 g          
Vit C                    : 18.53 g




  1. PANCAKE MANGGA  (7 PORSI)

Bahan kulit :
100 gram tepung terigu
2 butir telur
250 ml susu cair
50 gr gula pasir
1 sdm margarine leleh

Bahan isi :
100 gram daging mangga masak
250 ml whipped cream


Cara membuat :
1.       Kulit : campur tepung terigu dan gula pasir hingga rata. Tambahkan susu sedikit demi sedikit sambil diaduk. Terakhir masukkan telur dan margarine leleh sambil terus diaduk
2.       Panaskan wajan anti lengket. Tuang adonan, lalu buat dadar tipis
3.       Isi adonan dadar tadi dengan whiped cream dan daging durian
4.       Tutup adonan dadar dengan cara dilipat seperti dadar gulung
5.       Simpan dalam lemari es hingga dingin
6.       Sajikan dalam keadaan dingin
  

Nilai Gizi per Porsi
Energi                   : 252,21 kkal
Protein                  : 5.89 g
Karbohidrat          : 23,51 g
Lemak                  : 15,26 g          
Vit C                    : 6.86 g


1 Maret 2016

Tangan Tuhan Telah Bekerja (Part 2)

Bismillah

Setelah pengumuman penerimaan CPNS, aku segera mengurus kepindahan ke Kudus. dari tempat kerja sebelumnya aku diberi waktu lima belas hari untuk menyelesaikan tugas-tugasku.

Dan hari itupun tiba, saatnya aku pindah domisili ke Kudus, meninggalkan Kota Surabaya yang sudah 5 tahun menjadi rumah keduaku. Banyak kenangan di sana, di Kota itulah aku belajar untuk hidup seorang diri jauh dari orang tua dan belajar bagaimana mempertahankan hidup di kota besar. Di Kota inilah aku bertemu dengan sahabat-sahabat yang kompak luar biasa, dengan berbagai latar belakang keluarga yang berbeda-beda, namun kita mempunyai misi yang sama. Kita sama-sama menginginkan masa-masa perkuliahan sebagai masa untuk menggali ilmu dan pengalaman sebanyak-banyaknya. Dari mulai aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) sampai kita berlima sama-sama ikut sebuah LSM yang bergerak di bidang perlindungan anak. 

Salah satu sahabtku, yang saat itu satu kantor denganku tampak sedih ketika hari perpisahanku tiba. Entah sedih karena akan berpisah dengan sahabatnya yang manis ini (hehe) atau sedih karena tidak ketrima seleksi Dosen di salah satu PTN di Jawa Timur.
Entahlah, perasaanku saat itupun nano-nano kalo boleh dibilang.
Seneng iya, karena bisa kembali ke Kotaku tercinta dan berkumpul dengan orang tua. sedih juga iya, karena aku harus melepas mimpi untuk bekerja di sektor swasta dan satu lagi berpisah dengan calon suami yang sebentar lagi kami akan menikah.

Gambaran-gambaran akan memulai hidup baru dengan sang pujaan hatipun, tampak samar sekarang. Bagaimana tidak, hidup berjauhan dengannya setelah menikah tidak ada dalam bayangku sebelumnya.

Hanya satu yang ada didalam pikiranku waktu itu, aku masih tanggungjawab orangtuaku. Dan aku ingin sekali membahagiakan orantua dengan mengikuti pilihan mereka.

Tanggal 1 maret 2005, aku memulai aktifitas sebagai CPNS di Dinas Kesehatan, minggu-minggu pertama masih masa orientasi dan akupun rasanya pengen keluar saja waku itu.
Namun orangtua menyakinkanku untuk menjani dulu. Jangan dibayangkan bagaimana perasaanku saat itu, hehe....

Akirnya aku bisa melewati hari-hari masa orientasi, karena di rumah juga mulai sibuk persiapan pernikahanku. Mempersiapkan pernikahan seorang diri, calon suami di luar kota dan tidak ada sahabat-sahabatku yang sudah 5 tahun selalu menemani hari-hari. Aaah aku kangen mereka. 

Sebulan setelah bekerja di Kudus, hari pernikahanku pun tiba. semua sahabatku datang saat itu, senang sekali rasanya bahkan teman-teman kost yang kompak dan lucu-lucu juga menyempatkan datang ke rumahku.  hanya doa yang bisa kulakukan dalam menjalani pernikahan ini. karena Long distance relationship (LDR) tidak terbayangkan sebelumnya dalam benakku.

(to be continued)....  :)